Kata
pengantar
Assalamualaikum
Wr.Wb
Puji syukur kehadirat Allah SWT. Yang telah memberikan kekuatan
tekad kepada penulis sehingga bisa menyelesaikan karya tulis ilmiah ini.
Sholawat serta salam tetap pelunis curah limpahkan kepada jungjungan alam Rosulullah
Nabi Muhammad SAW. yang telah memberikan cahaya terhadap dunia intelektual.
Karya tulis ini tercipta karena rasa prihatinnya pergaulan santri dipondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo
yang kurang mementingkan rasa toleransi sesama santri. Yang mudah mudahan dapat
berubahkarena kedatangan karya tulis ini.
Penulis juga menyadari kepenulisan ini masih terdapa banyak
kesalahan. Maka dari itu, penulis berharap adanya sumbangsih pemikiran terhadap
kepenulisan karya tulis ilmiyah ini.
Penulis berharap semoga karya tulis ilmiah ini dapat memberikan
manfaa khususnya kepada penulis sendiri terlebih kepada pembaca sekalian.
Sekian dari
penulis.
Wassalamualaikum
Wr.Wb
Sukorejo,
10 Mei 2017
Raden
M. Muhtar Ghozali
Kata Pengantar ........................................................................................................... 1
Daftar isi..................................................................................................................... 2
Abstrak....................................................................................................................... 3
Bab I
pendahuluan...................................................................................................... 4
A.
Latar belakang................................................................................................ 4
B.
Rumusan masalah........................................................................................... 6
C.
Tujuan penelitian............................................................................................ 6
D.
Manfaat penelitian.......................................................................................... 6
E.
Metode penelitian........................................................................................... 6
Bab II kajian
teoritis.................................................................................................... 8
A.
Pengertian komunikasi antar budaya............................................................... 8
B.
Proses komunikasi antar budaya..................................................................... 13
Bab III
Pembahasan.................................................................................................... 14
A.
Contoh kasus.................................................................................................. 14
B.
Pengaruh komunikasi antar budaya madura dengan budaya sunda................. 14
Bab III penutup........................................................................................................... 17
A.
Kesimpulan..................................................................................................... 17
B.
Saran............................................................................................................... 17
Daftar pustaka............................................................................................................ 18
Abstrak
Indonesia memiliki 1.340 suku bangsa
menurut sensus BPS tahun 2010,[1]
begitu pula dipondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. Terdapat sekitar
15.000 santri dari kurang lebih 13 daerah dari penjuru Indonesia berkumpul di
pesantren ini.[2]
Dalam menjalani kehidupannya sehari-hari sebagai kelompok sosial,
akan terdapat ketergantungan yang mana hal itu akan terpenuhi bila mana
terjadinya suatu interaksi. Kegiatan Komunikasi antar budaya ini yang kerap
kali menimbulkan kesalah pahaman disebabkan perbedaan watak yang melekat pada pribadi
seseorang yang berbeda daerah.
Bab
I Pendahuluan
A.
Latar Belakang
Hampir setiap manusia membutuhkan komunikasi. Sebagai mahluk sosial
manusia menjadikan komunikasi sebagai media petukaran pesan, keinginan dan
kebutuhan. Hal ini telah dikemukakan oleh Mulyana dan Rahmat (2006:12). Hampir
setiap orang membutuhkan hubungan sosial dengan orang lain dan kebutuhan ini
terpenuhi melalui komunikasi yang berfungsi sebagai jembatan untuk
mempersatukan manusia.
Namun, disamping manusia sebagai mahluk sosial, manusia juga merupakan
suatu individu yang menyandang indentitas individu dari suatu suku, ras, budaya
dan agama. Bahkan dapat dibedakan dalam
hal pemikiran atau dalam persepsi tertentu. Dengan mengetahui bahwa
manusia sebagai mahluk sosial dan individu, perlu adanya saling memahami dalam komunikasi
antar individu.
Komunikasi sendiri
merupakan hal yang paling krusial dalam kehidupan ini. Sebuah interaksi
sosial bisa tidak berarti apa-apa jika komunikasi didalamnya tidak berjalan
pada semestinya. Oleh karena itu komunikasi
merupakan hal yang
paling penting bagi
individu dalam melakukan interaksi.
Kadang kala individu
merasakan komunikasi itu tidak
efektif, yang dikarenakan adanya salah penafsiran oleh si penerima pesan
(komunikan), dan kesalahan penafsiran tersebut dikarenakan persepsi oleh setiap
individu yang berbeda-beda. Agar komunikasi berlangsug efektif dan pesan yang
disampaikan oleh seorang komunikator dapat diterima dan dipahami dengan baik
oleh seorang komunikan, maka seorang komunikator perlu menetapkan pola
komunikasi yang baik pula.[3]
Pola berkomunikasi adalah cara atau
“seni” penyampaian suatu pesan yang dilakukan seorang komunikator sedemikian
rupa, sehingga menimbulkan dampak tertentu pada komunikan. Pesan yang
disampaikan komunikator adalah
pernyataan sebagai paduan
pikir dan perasaan, dapat
berupa ide, informasi,
keluhan, keyakinan, imbauan, anjuran dan sebagainya.[4]
Sedangkan
Komunikasi antarbudaya adalah
sebuah situasi yang
terjadi bila pengirim pesan
adalah anggota suatu budaya dan penerima pesannya adalah anggota dari suatu kelompok budaya yang berbeda. Dalam keadaan demikian komunikan atau komunikator
dihadapkan kepada masalah-masalah dimana
suatu pesan disandikan
dalam suatu budaya
yang harus disandi balik ke dalam budaya lain.[5]
Aspek-aspek
budaya dalam komunikasi seperti bahasa, isyarat, non verbal, sikap kepercayaan,
watak, nilai, dan orientasi pikiran akan lebih banyak ditemukan sebagai
perbedaan besar yang sering menyebabkan distorsi dalam berkomunikasi. Namun,
dalam masyarakat yang berbeda kebudayaan pun, tetaplah akan terdapat
kepentingan-kepentingan bersama untuk melakukan komunikasi.[6]
Dipondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah
Sukorejo, terdapat ribuan santri dari berbagai penjuru Indonesia yang meliputi
berbagai suku, mulai dari suku Madura sampai pada Sunda. Hal ini sudah dapat
dipastikan pribadi dari setiap santri memiliki dan membawa budaya yang
berbeda-beda pula. Dari cara berkomunikasinya pun pasti berbeda dan watak yang
melekat pun pasti berbeda.
Suku Madura adalah suku yang ada di kepulauan Madura
sampai ke daerah Tapal Kuda. Bahasa daerah yang
digunakan ialah bahasa Madura. Karakter sosial
yang melekat pada orang Madura adalah selalu
menjungjung tinggi Harga diri, juga paling penting dalam kehidupan
orang Madura, mereka memiliki sebuah peribahasa lebbi bagus pote tollang, atembang
pote mata. Artinya, lebih baik mati (putih tulang) daripada malu (putih
mata). Sifat yang seperti ini melahirkan tradisi carok pada masyarakat
Madura, tetapi tradisi ini lambat laun melemah seiring dengan terdidiknya kaum
muda di pelosok desa, dahulu mereka memakai kekuatan emosional dan tenaga saja,
namun kini mereka lebih arif dalam menyikapi berbagai persoalan yang
ada.
Suku
Sunda adalah kelompok etnis yang berasal dari bagian barat Pulau Jawa,
dengan istilah Tatar Pasundan yang mencakup wilayah administrasi
provinsi Jawa
Barat, Banten, Jakarta, Lampung dan wilayah barat Jawa
Tengah (Banyumasan). Orang
Sunda tersebar diberbagai wilayah Indonesia, dengan provinsi Banten dan Jawa
Barat sebagai wilayah utamanya.
Jati
diri yang mempersatukan orang Sunda adalah bahasanya dan budayanya. Orang Sunda dikenal memiliki
sifat optimistis, ramah, sopan, riang dan bersahaja. Orang Portugis mencatat dalam Suma
Oriental bahwa orang Sunda bersifat jujur dan pemberani. Ikatan kekeluargaan yang kuat dan peranan agama Islam
yang sangat mempengaruhi adat istiadat mewarnai seluruh sendi kehidupan suku
Sunda.[7]
Perbedaan watak diantara suku Sunda dengan Madura
menimbulkan perbedaan cara dalam berkomunikasi, baik secara verbal maupun non
ferbal. Walaupun pada dasarnya, dalam menjalani kehidupan sehari-hari sebagai
anggota kelompok dari Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukerjo yang
berbeda suku dan budaya, akan seselalu ada ketergantungan diantara mereka.
Hal ini yang membuat penulis melakukan riset
sederhana terhadap Pengaruh Komunikasi Antar Santri bersuku Madura Terhadap
Santri bersuku Sunda Dipondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.
B.
Rumusan masalah
Pengaruh dari perbedaan
budaya terhadap santri asal sunda?
C.
Tujuan penelitian
1.
Untuk mengetahui cara berinteraksi antara suku Sunda dengan suku Madura
dipondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah
Sukorejo.
2.
Menemukan titik tekan diantara kedua suku tersebut.
3.
Agar lebih menonjolnya sikap toleransi understanding dalam
berkomunikasi terhadap santri asal suku Sunda.
D.
Manfaat
Penelitian
1.
Manfaat
Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat
memberi sumbangsih pemikiran bagi perkembangan ilmu pengetahuan, terutama di
bidang Ilmu Komunikasi.
2.
Manfaat Praktis
a.
Bagi Penulis
Sebagai media pembelajaran bagi
penulis dalam melakukan kegiatan-kegiatan penelitian berikutnya, serta sebagai
media penguatan pemahaman baik dalam tataran teori dan tataran implementasi
kehidupan.
b.
Bagi Pondok
Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.
Sebagai referensi tambahan dalam
menentukan setiap kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan pembahasan pada
penelitian kali ini. Selain itu, senagai upaya menumbuhkan rasa toleransi dan
solidaritas sesama santri.
c.
Bagi Institusi
Sebagai referensi tambahan untuk
mahasiswa selanjutnya yang hendak mengadakan penelitian yang berkaitan dengan
pembahasan penelitian kali ini.
E.
Metode penelitian
1.
Metode Penelitian
Menurut
Poerwadarminta, Metode penelitan artinya kegiatan pengumpulan, penyajian data
pengolahan dan analisis yang dilakukan secara sistematis dan obyektif untuk
memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu hipotesis untuk mengembangkan
prinsip-prinsip umum.[8]
2.
Jenis Penelitian
Jenis penelitian
yang digunakan oleh peneliti adalah study kasus, yaitu penelitian yang mendalam
tentang pola komunikasi yang dilakukan santri Pondok
Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo yang berasal dari suku Sunda dengan
suku Madura.
3.
Sumber Data
Untuk memperoleh data digunakan sumber
data sebagai berikut :
a. Sumber Primer, yaitu data yang didapatkan langsung
dari Responden. Seperti data yang diperoleh dari santri yang berasal dari
suku Sunda.
b. Sumber Sekunder,
yaitu data yang diperoleh selain dari Responden. Misalnya dari buku-buku,
dokumen, majalah, jurnal, pustaka lain yang berkaitan dan pengamatan secara
intensif.
4. Teknik
Pengumpulan Data
Dalam
teknik pengumpulan data peneliti menggunakan beberapa metode sebagai berikut :
a. Metode
Observasi
Observasi
ini penulis lakukan se-objektif mungkin terhadap objek penelitian yaitu santri
yang berasal dari suku Sunda dan satri yang berasal dari suku Madura.
b. Metode Wawancara
Metode
sederhana yang penulis lakukan terhadap seorang santri yang berasal suku Sunda,
hal ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh santri yang berasal dari suku Madura
terhadap santri yang berasal suku Sunda.
Bab
II
Kajian
Teoritis
A.
Pengertian Komunikasi Antar Budaya
Komunikasi Antar Budaya dapat diartikan melalui
beberapa pernyataan sebagai berikut (Liliweri,2004:9):
a. Komunikasi Antar Budaya
adalah pernyataan diri antarpribadi yang paling efektif antara dua orang yang
saling berbeda latar belakang suku dan budaya.
b. Komunikasi Antar Budaya
merupakan pertukaran pesan-pesan yang disampaikan secara lisan, tertulis,
bahkan secara imajiner antara dua orang yang berbeda latar belakang
budaya.
c. Komunikasi Antar Budaya
merupakan pembagian pesan yang berbentuk informasi atau hiburan yang disampaikan
secara lisan atau tertulis atau metode lainnya yang dilakukan oleh dua orang
yang berbeda latar balakang budayanya.
1.
Pengertian Komunikasi
Secara etimologis, menurut Onong Uchjana Effendi, istilah
komunikasi berasal dari bahasa ingris “comunication”
yang bersumber dari bahasa latin “communication”
yang berarti “pemberitahuan” atau pertukaran pikiran. Maka makna hakiki dari communication ini adalah communis yang berarti “sama” atau
“kesamaan arti”.[9]
Sedangkan ditinjau dari terminologis para ahli
komunikasi mendefinisikan komunikasi antara lain sebagai berikut:
Wilbur Schramm dalam uraiannya mengatakan
bahwa sebenarnya, definisi komunikasi berasal dari bahasa latin “communis”. Bila mana kita melakukan
komunikasi itu artinya kita mencoba untuk berbagi informasi, ide, atau sikap.
Jadi, esensi komunikasi itu adalah menjadikan si pengirim dapat berhubungan
bersama dengan si penerima guna menyampaikan isi pesan.[10]
2.
Pengertian Budaya
Budaya adalah suatu cara hidup yang
berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari
generasi ke generasi.[11] Budaya
terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik,
adat istiadat, bahasa,
perkakas, pakaian, bangunan,
dan karya seni.[12] Bahasa,
sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia
sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika
seseorang berusaha berkomunikasi dengan
orang-orang yang berbeda budaya, dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya,
membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.[13] budaya
bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan
perilaku komunikatif. [14]
Kebudayaan
sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw
Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat
ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah
untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
Herskovits
memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke
generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.
Menurut
Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial, norma
sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius
dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang
menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Dari
berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan
adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan, dan meliputi sistem
ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan
sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.
Sedangkan
perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai
makhluk yang berbudaya, berupa perilaku, dan benda-benda yang bersifat nyata,
misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial,
religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia
dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
3.
Pengertian Suku Madura
Kependudukan
orang Madura tersebar di penjuru daerah, seperti Gili
Raja, Sapudi, Raas, dan Kangean. Selain
itu, orang Madura tinggal di bagian timur Jawa
Timur biasa disebut wilayah Tapal Kuda, dari Pasuruan sampai utara Banyuwangi. Orang
Madura yang berada di Situbondo, Bondowoso,
sebelah timur Probolinggo, utara Lumajang, dan
utara Jember,
jumlahnya paling banyak dan jarang yang bisa berbahasa
Jawa, juga
Surabaya utara, serta sebagian Malang. ada juga yang menetap di Bawean, di
negeri jiran Malaysia, Timor
Leste, Brunei
Darussalam misalnya juga ada, mereka ada yang menjadi
penduduk tetap (sudah dapat IC/ surat tinggal selamanya.), Bahkan ada juga di
negara negara Timur
Tengah.
Mayoritas
masyarakat hampir 100 % suku Madura adalah penganut Islam bahkan suku
Madura yang tinggal di Madura bisa dikatakan 100 % muslim. suku Madura
terkenal sangat taat dalam beragama islam. Suku Madura terkenal karena gaya
bicaranya yang blak-blakan. Juga dikenal hemat, disiplin, dan rajin bekerja.
Harga
diri, juga paling penting dalam kehidupan orang Madura, mereka memiliki sebuah
peribahasa “lebbi bagus pote
tollang, atembang pote mata.” Artinya, lebih baik mati (putih tulang)
daripada malu (putih mata). Sifat yang seperti ini melahirkan tradisi carok pada masyarakat Madura, tetapi tradisi ini lambat
laun melemah seiring dengan terdidiknya kaum muda di pelosok desa, dahulu
mereka memakai kekuatan emosional dan tenaga saja, namun kini mereka lebih arif
dalam menyikapi berbagai persoalan yang ada.[15]
Adat dan kepribadian orang Madura merupakan
titik tolak terbentuknya watak dengan prinsip teguh yang dipengaruhi oleh
karakteristik geografis daerahnya. Satu prinsip yang menjadi fenomena orang
Madura, ialah dikenal sebagai orang yang mampu mengambil dan menarik manfaat
yang dilakukan dari hasil budi orang lain, tanpa mengorbankan kepribadiannya
sendiri. Demikian pula orang Madura pada umumnya menghargai dan menjunjung
tinggi rasa solidaritas kepada orang lain.
Sebagai suku yang hidup di kepualauan, orang
Madura dijaman dulu kurang mendapat kesempatan untuk berinteraksi dengan dunia
luar. Mereka sangat berhati-hati, dan akibatnya sesuatu yang datang dari luar
merupakan ancaman bagi dirinya. Meskipun pada dasarnya mereka konservatif,
yakni berusaha memelihara dan menjamin nilai-nilai yang mengakar dalam dirinya.
Tapi dalam segi yang lain, orang Madura menunjukkan naluri yang kuat untuk
menjamin dan bertahan kelangsungan hidup, karena mereka didorong untuk menerima
dan memanfaatkan nilai-nilai yang terserap dari luar.
Sebagai contoh yang paling gamblang, ketika
tentara Bali menerima kekalahan di Sumenep, mereka dihargai sebagai tamu dan
sebagai saudara untuk kemudian memperkenalkan cara-cara bertani garam. Maka
secepat itu orang-orang setempat menyebarkan keseluruh Madura.
Demikian pula, dengan kedatangan para saudagar
Gujarat yang menyiarkan agama Islam di Madura, mampu dan berhasil mengislamkan
para pemimpin dan bangsawan Madura sampai menyebar keseluruh pelosok Madura. Dengan
bukti-bukti tersebut, maka tidak benar bila watak dan sikap hidup Madura bebal
dan sulit diajak kerja sama. Bahkan sebaliknya, justru mereka lebih akrab,
terbuka dalam kondisi apapuna.
Namun kemungkinan besar, kalaupun terjadi kontroversial,
terletak pada terputusnya komunikasi bahasa yang orang luar menganggap angkuh
dan bertahan. Padahal sebenarnya, bila seseorang mengenal lebih jauh dan
berkomunikasi lancer dengan orang Madura maka akan sirna bayangan keras dan
bringas itu. Kecuali terhadap pendatang yang congkak, menyinggung perasaan dan
mau merusak harga diri dan hak kepentingannya, maka tak segan-segan mereka akan
berbicara melalui kekerasan. Atau dengan kata lain, meski dengan wajah angker
dan bringas belum tentu berarti berprilaku kasar atau keras.
4. Pengertian Suku Sunda
secara etimologi
kata Sunda berasal dari akar kata Sund atau kata Suddha dalam bahasa Sansekerta
yang mempunyai pengertian bersinar, terang, berkilau, putih.[16] Dalam
bahasa Jawa Kuno (Kawi) dan bahasa Bali pun terdapat kata Sunda, dengan
pengertian: bersih, suci, murni, tak tercela/bernoda, air, tumpukan, pangkat,
waspada.[17]
Orang Sunda meyakini bahwa memiliki etos atau karakter Kasundaan, sebagai jalan
menuju keutamaan hidup. Karakter orang Sunda yang dimaksud adalah cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), singer (mawas diri), wanter (berani) dan pinter (cerdas). Karakter ini telah
dijalankan oleh masyarakat Sunda sejak zaman Kerajaan Salakanagara, Kerajaan Tarumanagara, Kerajaan Sunda-Galuh, Kerajaan Pajajaran hingga sekarang.
Pandangan
hidup Selain agama yang dijadikan pandangan hidup, orang Sunda juga mempunyai
pandangan hidup yang diwariskan oleh nenek moyangnya. Pandangan hidup tersebut
tidak bertentangan dengan agama yang dianutnya karena secara tersurat dan
tersirat dikandung juga dalam ajaran agamanya, khususnya ajaran agama Islam.
Dalam
percakapan sehari-hari, suku Sunda banyak menggunakan bahasa Sunda. Namun kini
telah banyak masyarakat Sunda terutama yang tinggal di perkotaan tidak lagi
menggunakan bahasa Sunda dalam bertutur kata.[18]
Seperti yang terjadi di pusat-pusat keramaian kota Bandung, Bogor, dan Tangerang, dimana
banyak masyarakat yang tidak lagi menggunakan bahasa Sunda.
Hubungan
antara manusia dengan sesama manusia dalam masyarakat Sunda pada dasarnya harus
dilandasi oleh sikap “silih
asah, silih asuh, dan silih asih”, artinya harus saling mengasah atau
mengajari, saling mengasuh atau membimbing dan saling mengasihi sehingga tercipta
suasana kehidupan masyarakat yang diwarnai keakraban, kerukunan, kedamaian,
ketentraman, dan kekeluargaan.
B. Proses Komunikasi
Antar Budaya
Proses terjadinya komunikasi antar budaya dipondok Pesantren salafiyah Syai’iyah
Sukorejo, seperti yang diungkapkan oleh Liliweri bahwa proses
komunikasi antar budaya terjadi ketika interaksi antarpribadi yang dilakukan
oleh beberapa orang yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda (2003,
p. 13). Komunikasi antar budaya Sunda dengan Madura ini terjadi manakalah kedua
kebudayaan tersebut terlibat dalam kegiatan komunikasi yang membawa serta latar
belakang budaya masing-masing berupa pengalaman, pengetahuan, dan nilai[19].
Banyak masalah komunikasi antarbudaya sering kali
timbul hanya karena orang kurang menyadari dan tidak mampu mengusahakan cara
efektif dalam berkomunikasi antarbudaya.[20]
Menurut William Howel (1982, dalam Liliweri,2004:225), setiap individu
mempunyai tingkat kesadaran dan kemampuan yang berbeda-beda dalam berkomunikasi
antarbudaya. Tingkat kesadaran dan kemampuan itu terdiri atas empat
kemungkinan, yaitu:
1.
Seorang sadar bahwa dia tidak mampu memahami budaya orang lain. Keadaan ini
terjadi karena dia tahu diri bahwa dia tidak mampu memahami perbedaan-perbedaan
budaya yang dihadapi. Kesadaran ini dapat mendorong orang untuk melakukan
eksperimen bagi komunikaksi antarbudaya yang efektif.
2.
Dia sadar bahwa dia mampu memahami budaya orang lain. Keadaan ini merupakan
yang ideal artinya kesadaran akan kemampuan itu dapat mendorong untuk memahami,
melaksanakan, memelihara dan mengatasi komunikasi antarbudaya.
3.
Dia tidak sadar bahwa dia mampu memahami budaya orang lain. Keadaan ini
dihadapi manakala orang tidak sadar bahwa dia sebenarnya mampu berbuat untuk
memahami perilaku orang lain, mungkin orang lain menyadari perilaku komunikasi
dia.
4.
Dia tidak sadar bahwa dia tidak mampu mengahadapi perbedaan anatarbudaya,
keadaan ini terjadi manakala seseorang sama sekali tidak menyadari bahwa
sebenarnya dia tidak mampu menghadapi perilaku budaya orang lain.
Bab III
Pembahasan
A.
Contoh Kasus
Pengaruh
Komunkasi Antar Santri Bersuku Madura dengan Santri Bersuku Sunda dipondok
Pesantren Salafiyah Syaf’iyah Sukorejo
Dika Maulana, santri Pondok
Pesantren Salafiyah Syaf’iyah Sukorejo asal Majalengka,
Jawa Barat. Beliau masuk kepesantren yang memiliki santri mayoritas
berkebudayaan suku madura ini pada tahun 2015. Ketika di interview, beliau
mengakui kesulitan dalam berkomunikasi kepada santri asal madura disebabkan kurang
memahami pola berkomunikasi dengan orang Madura. Dengan berkebudayaan Sunda, santri
disekitarnya merasa risih akan perbedaan perbedaan watak dan sifatyang dimiliki
dika.
Kesulitan dalam berkomunikasi ini ternyata
berimplikasi pada keseharian dika dalam menjalani proses kegiatan belajarnya. Bahkan,
terkadang terjadi kesalahpahaman saat berkomunikasi. Seperti, pewatakan orang
madura yang keras terkadang menyinggung perasaan dika
serta perbedaan cara berkomunikasi seperti pemakaian kosa kata, intonasi dan
mimik wajah.
Namun berangkat dari kesulitan berkomunikasi, Dika mempelajari kebudayaan
suku Madura. Seiring berjalannya waktu, hingga saat ini, meskipun hanya
memahami beberapa kosakata dan kepribadian orang Madura, Dika memahami pola
komunikasi ysng digunakan saat berinteraksi dengan santri assal Madura.
Lingkungan yang berbau suku Madura, ternyata mempengaruhi kepribadiannya
sebagai orang Sunda, ini kerap kali menimbulkan perasaan khawatir akan terbawa
kedalam perwatakan suku Madura.
Namun perlu diakui, setidaknya dia merasa bersyukur terhadap keberadaan
berbagai macam kebudayaan dipondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.
Disamping mengetahui perwatakan kebudayaan selain suku Sunda, menambah sikap
toleransi, juga menambah ke-pekaan saat berinteraksi dengan sesorang yang
berlainan kebudayaan.
B.
Pengaruh Komunikasi Antar santri
bersuku Madura dengan santri bersuku Sunda dipondok Pesantren Salafiyah
Syaf’iyah Sukorejo.
Definisi yang pertama dikemukakan didalam buku “Intercultural
Communication: A Reader” dimana dinyatakan bahwa komunikasi antar budaya
(intercultural communication) terjadi apabila sebuah pesan (message) yang harus
dimengerti dihasilkan oleh anggota dari budaya tertentu untuk konsumsi anggota
dari budaya yang lain (Samovar & Porter, 1994, p. 19).
Komunikasi antar budaya adalah proses dimana dialihkan ide atau
gagasan suatu budaya yang satu kepada budaya yang lainnya dan sebaliknya, dan
hal ini bisa antar dua kebudayaan yang terkait ataupun lebih, tujuannya untuk
saling mempengaruhi satu sama lainnya, baik itu untuk kebaikan sebuah
kebudayaan maupun untuk menghancurkan suatu kebudayaan, atau bisa jadi sebagai
tahap awal dari proses akulturasi (penggabungan dua kebudayaan atau lebih yang
menghasilkan kebudayaan yang baru). Menurut Fiber Luce (1991) hakikat studi
lintas budaya adalah studi komparatif yang bertujuan membandingkan :
a. variabel
budaya tertentu
b. konsekuensi
atau akibat dari pengaruh kebudayaan, dari dua konteks kebudayaan atau lebih.
Harapannya dengan studi ini, setiap orang akan memahami kebudayaannya
sendiri dan mengakui bahwa ada isu kebudyaan yang dominan yang dimiliki orang
lain dalam relasi antarbudaya. Artinya komunikasi antar budaya dapat dilakukan
kalau kita mengetahui kebudayaan kita dan kebudayaan orang lain.
Praktek komunikasi antar budaya yang dilakukan oleh Antar
santri bersuku Madura dengan santri bersuku Sunda dipondok Pesantren Salafiyah
Syaf’iyah Sukorejo (komunikasi multikultural) yang menghasilkan
efek-efek yang berbeda (Carley H.Dood, 1982) akan mempengaruhi
secara langsung baik pengaruh yang bersifat kognitif maupun yang
bersifat afektif yaitu (Litvin dalam Purwasito, 2003:47):
1. Memberi kepekaan
terhadap diri seseorang tentang budaya asing sehingga dapat merangsang
pemahaman yang lebih baik tentang budaya sendiri dan mengerti bias-biasnya,
2. Memperoleh kemampuan
untuk benar-benar terlibat dalam tindak komunikasi dengan orang lain yang
berbeda-beda latar belakang budayanya sehingga tercipta interaksi yang harmonis
dan langgeng,
3. Memperluas cakrawala
budaya asing atau budaya orang lain, sehingga lebih menumbuhkan empati dan
pengalaman seseorang, yang mampu menumbuhkan dan memelihara wacana dan makna
kebersamaan
4. Membantu penyadaran
diri bahwa sistem nilai dan budaya yang berbeda dapat dipelajari secara
sistematis, dapat dibandingkan an dipahami.
Namun dibalik adanya sisi positif, tentu ada sisi kontradiktif terhadap
sisi tersebut. Berikut Dampak negatif komunikasi antarbudaya dalam masyarakat :
a. Mengakibatkan
terjadinya pencarian kesamaan dalam usaha untuk mencari orang yang memiliki
kesamaan budaya, etnis dan lainnya lalu berkumpul dalam satu kelompok.
b. Penarikan diri:
penarikan diri dari interaksi tatap muka, atau dari suatu komunitas.
c. Kecemasan: perasaan
psikologis yang secara tiba-tiba menghasilkan sebuah situasi baru yang kurang
aman/nyaman.
d. Bertambahnya
ketidakpastian: tidak ada usaha untuk mengurangi ketidakpastian atau dengan
berusaha memprediksi perilaku apa yang akan dilakukan lawan bicara saat
berinteraksi.
e. Stereotip:
Penggeneralisasian orang-orang (kelompok etnis lain) berdasarkan sedikit info
dan membentuk asumsi mengenai mereka berdasarkan keanggotaan mereka dalam satu
kelompok.
f. Prasangka: keyakinan
yang didasarkan pada gagasan yang terlebih dahulu disederhanakan,
digeneralisasi atau dilebih-lebihkan pada sekelompok orang.
g. Etnosentrisme:
menganggap kelompok budaya/etnisnya yang lebih baik (superior) hingga bisa
menimbulkan rasisme yaitu pengkategorisasian individu berdasarkan warna kulit,
rambut, dan lainnya.
h. Culture Shock: kecemasan
yang dihasilkan dari perasaan kehilangan tanda keluarga dan simbol dari
pergaulan sosial, gegar budaya terjadi ketika kita memasuki lingkungan baru
yang berbeda budaya.
Bab IV
Penutup
A.
Kesimpulan
Komunikasi antar budaya sangat diperlukan di
negara ini. Mengingat bangsa indonesia mempunyai bermacam-macam budaya, akan
sangat membantu dalam dalam kegiatan berkomunikasi.
Komunikasi antar budaya juga sangat diperlukan
dipondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. Dengan memiliki kurang lebig
15.000 santri. Mengingat perbedaan watak dari setiap budaya yang melekat pada
diri santri tentu hal ini mempermudah bagi santri untuk tetap berkomunikasi
dengan sesama dalam memenui kebutuhannya.
Seperti yang telah dicontohkan diatas, bahwa
perbedaan yang signifikan antara santri asal sunda dengan asal madura dipondok Pesantren
Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo menghasilkan efek yang bermacam-macam. Faktor
penyebabnya adalah dari kegiatan komunikasi itu sendiri yang menyangkut
pola-pola komunikasi. Kesalahan dalam memahami pola komunikasi atau pesan yang
tersirat yang disampaikan oleh seorang santri yang berbeda budaya bisa berimplikasi
pada kesalah pahaman yang berujung pada hal-hal yang tidak dinginkan.
Untuk mencapai keberhasilan dalam
berkomunikasi, sesorang santri harus mempelajari dan mencoba saling memahami perbedaan
yang ada serta menambah rasa toleran dan solidaritas terhadap sesama santri Pondok
Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.
Komunikasi antar budaya dipondok pesantren
salafiyah syafi’iyah sukorejo juga menimbulkan efek baik positif maupun negatif.
Diantara efek psitif yang dihasilkan dari komunikasi antar budaya adalah
wawasan seorang santri diperkaya terhadap kebudayaan yang belum diketahuinya.
Efek negatif dari komunikasi antar budaya adalah perubahan jati diri seseorang
secara perlahan.
B.
Saran
Seorang santri agar lebih memahami pola-pola
dalam berkomunikasi antar budaya, agar terciptanya suasana yang tentram, damai
serta penuh rasa toleransi sesama santri dipondok pesantren salafiyah
syafi’iyah sukorejo.
Daftar pustaka
Anandakusuma, (1986:
185-186);
Mardiwarsito, (1990:
569-570);
Winter, (1928:
219)
Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat. Komunikasi Antarbudaya:Panduan
Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda Budaya. 2006. Bandung:Remaja Rosdakarya.hal.25
Hasbullah, Moeflich. Tergerusnya
Kebudayaan Sunda. Kompas Cetak.
http://Suku%20Sunda%20-%20Wikipedia%20bahasa%20Indonesia,%20ensiklopedia%20bebas.html
https://id.scribd.com/doc/161886014/EFEK-KOMUNIKASI-ANTAR-BUDAYA
https://mfth12.wordpress.com/2016/11/30/pengaruh-komunikasi-antarbudaya-dalam-komunikasi-antarpribadi-makalah-mahasiswa
Human Communication: Konteks-konteks Komunikasi
Human Communication: Konteks-konteks
Komunikasi
Human Communication: Konteks-konteks Komunikasi
Kewarganegaraan,
Suku Bangsa, Agama dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia – Hasil Sensus
Penduduk 2010. Badan Pusat Statistik. 2011.
Liliweri, 2004:254
Onong Uchjana Effendi, Dinamika Komunikasi, (Bandung, Remaja
Rosda Karya, 1992) hal.6
Onong Uchjana Effendi, Spektrum Komunikasi, (Bandung: Bandar
Maju, 1992) hlm.14
Rouffaer (1905: 16) Williams, 1872: 1128,
Eringa, 1949: 289).
Samovar dan Porter,
1972
WJS.
Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai
Pustaka, 1976), h.235
Asnawir dan
Basyirudin Ustman, media pembelajaran
, Jakarta: ciputat press, 2002 hal. 45
Onong Uchana Effendy, Dinamika Komunikasi (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2004 hlm. 6.
Deddy Mulyana &
Jalaludin Rahmat, Komunikasi Antar Budaya, Hal 20
Alex. H. Rumondor
dkk, komunkasi antar budaya, (Jakarta: pusat penerbitan universitas terbuka,
2001). Hlm. 117
https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Sunda
[2] http://santri.net/informasi/pesantren-indonesia/pondok-pesantren-salafiyah-syafiiyah-asembagus-situbondo-jatim/
[3] Asnawir
dan Basyirudin Ustman, media pembelajaran
, Jakarta: ciputat press, 2002 hal. 45
[6] Alex. H. Rumondor dkk,
komunkasi antar budaya, (Jakarta: pusat penerbitan universitas terbuka, 2001).
Hlm. 117
[9] Onong Uchjana Effendi, Spektrum Komunikasi, (Bandung: Bandar Maju, 1992) hlm.14
[10] Onong Uchjana Effendi, Dinamika Komunikasi, (Bandung, Remaja Rosda Karya, 1992) hal.6
[14] Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat. Komunikasi Antarbudaya:Panduan
Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda Budaya. 2006. Bandung:Remaja
Rosdakarya.hal.25
[15] Kewarganegaraan,
Suku Bangsa, Agama dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia – Hasil Sensus
Penduduk 2010. Badan Pusat Statistik. 2011.
No comments:
Post a Comment