Saturday, April 28, 2018

contoh karya tulis ilmiah komunikasi antar budaya

Kata pengantar
Assalamualaikum Wr.Wb
Puji syukur kehadirat Allah SWT. Yang telah memberikan kekuatan tekad kepada penulis sehingga bisa menyelesaikan karya tulis ilmiah ini. Sholawat serta salam tetap pelunis curah limpahkan kepada jungjungan alam Rosulullah Nabi Muhammad SAW. yang telah memberikan cahaya terhadap dunia intelektual.
Karya tulis ini tercipta karena rasa prihatinnya pergaulan santri dipondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo yang kurang mementingkan rasa toleransi sesama santri. Yang mudah mudahan dapat berubahkarena kedatangan karya tulis ini.
Penulis juga menyadari kepenulisan ini masih terdapa banyak kesalahan. Maka dari itu, penulis berharap adanya sumbangsih pemikiran terhadap kepenulisan karya tulis ilmiyah ini.
Penulis berharap semoga karya tulis ilmiah ini dapat memberikan manfaa khususnya kepada penulis sendiri terlebih kepada pembaca sekalian.
Sekian dari penulis.
Wassalamualaikum Wr.Wb
Sukorejo, 10 Mei 2017

Raden M. Muhtar Ghozali


Kata Pengantar ........................................................................................................... 1
Daftar isi..................................................................................................................... 2
Abstrak....................................................................................................................... 3
Bab I pendahuluan...................................................................................................... 4
A.     Latar belakang................................................................................................ 4
B.     Rumusan masalah........................................................................................... 6
C.     Tujuan penelitian............................................................................................ 6
D.     Manfaat penelitian.......................................................................................... 6
E.      Metode penelitian........................................................................................... 6
Bab II kajian teoritis.................................................................................................... 8
A.     Pengertian komunikasi antar budaya............................................................... 8
B.     Proses komunikasi antar budaya..................................................................... 13
Bab III Pembahasan.................................................................................................... 14
A.     Contoh kasus.................................................................................................. 14
B.     Pengaruh komunikasi antar budaya madura dengan budaya sunda................. 14
Bab III penutup........................................................................................................... 17             
A.     Kesimpulan..................................................................................................... 17
B.     Saran............................................................................................................... 17
Daftar pustaka............................................................................................................ 18



Abstrak
Indonesia memiliki 1.340 suku bangsa menurut sensus BPS tahun 2010,[1] begitu pula dipondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. Terdapat sekitar 15.000 santri dari kurang lebih 13 daerah dari penjuru Indonesia berkumpul di pesantren ini.[2]
Dalam menjalani kehidupannya sehari-hari sebagai kelompok sosial, akan terdapat ketergantungan yang mana hal itu akan terpenuhi bila mana terjadinya suatu interaksi. Kegiatan Komunikasi antar budaya ini yang kerap kali menimbulkan kesalah pahaman disebabkan perbedaan watak yang melekat pada pribadi seseorang yang berbeda daerah.
Bab I Pendahuluan
A.    Latar Belakang
Hampir setiap manusia membutuhkan komunikasi. Sebagai mahluk sosial manusia menjadikan komunikasi sebagai media petukaran pesan, keinginan dan kebutuhan. Hal ini telah dikemukakan oleh Mulyana dan Rahmat (2006:12). Hampir setiap orang membutuhkan hubungan sosial dengan orang lain dan kebutuhan ini terpenuhi melalui komunikasi yang berfungsi sebagai jembatan untuk mempersatukan manusia.
Namun, disamping manusia sebagai mahluk sosial, manusia juga merupakan suatu individu yang menyandang indentitas individu dari suatu suku, ras, budaya dan agama. Bahkan dapat dibedakan dalam hal pemikiran atau dalam persepsi tertentu. Dengan mengetahui bahwa manusia sebagai mahluk sosial dan individu, perlu adanya saling memahami dalam komunikasi antar individu.
Komunikasi  sendiri  merupakan hal yang  paling  krusial dalam kehidupan ini. Sebuah interaksi sosial bisa tidak berarti apa-apa jika komunikasi didalamnya tidak berjalan pada semestinya. Oleh karena itu komunikasi  merupakan  hal  yang  paling  penting  bagi  individu dalam  melakukan  interaksi.  Kadang  kala  individu  merasakan  komunikasi itu tidak efektif, yang dikarenakan adanya salah penafsiran oleh si penerima pesan (komunikan), dan kesalahan penafsiran tersebut dikarenakan persepsi oleh setiap individu yang berbeda-beda. Agar komunikasi berlangsug efektif dan pesan yang disampaikan oleh seorang komunikator dapat diterima dan dipahami dengan baik oleh seorang komunikan, maka seorang komunikator perlu menetapkan pola komunikasi yang baik pula.[3]
Pola berkomunikasi adalah cara atau “seni” penyampaian suatu pesan yang dilakukan seorang komunikator sedemikian rupa, sehingga menimbulkan dampak tertentu pada komunikan. Pesan yang disampaikan  komunikator  adalah  pernyataan  sebagai  paduan  pikir  dan perasaan,  dapat  berupa  ide,  informasi,  keluhan,  keyakinan,  imbauan, anjuran dan sebagainya.[4]
            Sedangkan Komunikasi  antarbudaya  adalah  sebuah  situasi  yang  terjadi  bila pengirim pesan adalah anggota suatu budaya dan penerima pesannya adalah anggota dari  suatu kelompok budaya yang berbeda.  Dalam keadaan demikian  komunikan atau  komunikator  dihadapkan  kepada  masalah-masalah  dimana  suatu  pesan  disandikan  dalam  suatu  budaya  yang harus disandi balik ke dalam budaya lain.[5]
            Aspek-aspek budaya dalam komunikasi seperti bahasa, isyarat, non verbal, sikap kepercayaan, watak, nilai, dan orientasi pikiran akan lebih banyak ditemukan sebagai perbedaan besar yang sering menyebabkan distorsi dalam berkomunikasi. Namun, dalam masyarakat yang berbeda kebudayaan pun, tetaplah akan terdapat kepentingan-kepentingan bersama untuk melakukan komunikasi.[6]
Dipondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, terdapat ribuan santri dari berbagai penjuru Indonesia yang meliputi berbagai suku, mulai dari suku Madura sampai pada Sunda. Hal ini sudah dapat dipastikan pribadi dari setiap santri memiliki dan membawa budaya yang berbeda-beda pula. Dari cara berkomunikasinya pun pasti berbeda dan watak yang melekat pun pasti berbeda.
Suku Madura adalah suku yang ada di kepulauan Madura sampai ke daerah Tapal Kuda. Bahasa daerah yang digunakan ialah bahasa Madura. Karakter sosial yang melekat pada orang Madura adalah  selalu menjungjung tinggi Harga diri, juga paling penting dalam kehidupan orang Madura, mereka memiliki sebuah peribahasa lebbi bagus pote tollang, atembang pote mata. Artinya, lebih baik mati (putih tulang) daripada malu (putih mata). Sifat yang seperti ini melahirkan tradisi carok pada masyarakat Madura, tetapi tradisi ini lambat laun melemah seiring dengan terdidiknya kaum muda di pelosok desa, dahulu mereka memakai kekuatan emosional dan tenaga saja, namun kini mereka lebih arif dalam menyikapi berbagai persoalan yang ada.
Suku Sunda adalah kelompok etnis yang berasal dari bagian barat Pulau Jawa,  dengan istilah Tatar Pasundan yang mencakup wilayah administrasi provinsi Jawa Barat, Banten, Jakarta, Lampung dan wilayah barat Jawa Tengah (Banyumasan). Orang Sunda tersebar diberbagai wilayah Indonesia, dengan provinsi Banten dan Jawa Barat sebagai wilayah utamanya.
Jati diri yang mempersatukan orang Sunda adalah bahasanya dan budayanya. Orang Sunda dikenal memiliki sifat optimistis, ramah, sopan, riang dan bersahaja.  Orang Portugis mencatat dalam Suma Oriental bahwa orang Sunda bersifat jujur dan pemberani. Ikatan kekeluargaan yang kuat dan peranan agama Islam yang sangat mempengaruhi adat istiadat mewarnai seluruh sendi kehidupan suku Sunda.[7]
Perbedaan watak diantara suku Sunda dengan Madura menimbulkan perbedaan cara dalam berkomunikasi, baik secara verbal maupun non ferbal. Walaupun pada dasarnya, dalam menjalani kehidupan sehari-hari sebagai anggota kelompok dari Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukerjo yang berbeda suku dan budaya, akan seselalu ada ketergantungan diantara mereka.
Hal ini yang membuat penulis melakukan riset sederhana terhadap Pengaruh Komunikasi Antar Santri bersuku Madura Terhadap Santri bersuku Sunda Dipondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.
B.           Rumusan masalah
Pengaruh dari perbedaan budaya terhadap santri asal sunda?

C.    Tujuan penelitian
1.      Untuk mengetahui cara berinteraksi antara suku Sunda dengan suku Madura dipondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.
2.      Menemukan titik tekan diantara kedua suku tersebut.
3.      Agar lebih menonjolnya sikap toleransi understanding dalam berkomunikasi terhadap santri asal suku Sunda.

D.          Manfaat Penelitian
1.              Manfaat Teoritis
                Penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangsih pemikiran bagi perkembangan ilmu pengetahuan, terutama di bidang Ilmu Komunikasi.
2.           Manfaat Praktis
a.     Bagi Penulis
                Sebagai media pembelajaran bagi penulis dalam melakukan kegiatan-kegiatan penelitian berikutnya, serta sebagai media penguatan pemahaman baik dalam tataran teori dan tataran implementasi kehidupan.
b.    Bagi Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.
                Sebagai referensi tambahan dalam menentukan setiap kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan pembahasan pada penelitian kali ini. Selain itu, senagai upaya menumbuhkan rasa toleransi dan solidaritas sesama santri.
c.      Bagi Institusi
                Sebagai referensi tambahan untuk mahasiswa selanjutnya yang hendak mengadakan penelitian yang berkaitan dengan pembahasan penelitian kali ini.
E.           Metode penelitian

1.      Metode Penelitian
Menurut Poerwadarminta, Metode penelitan artinya kegiatan pengumpulan, penyajian data pengolahan dan analisis yang dilakukan secara sistematis dan obyektif untuk memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu hipotesis untuk mengembangkan prinsip-prinsip umum.[8]

2.      Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah study kasus, yaitu penelitian yang mendalam tentang pola komunikasi yang dilakukan santri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo yang berasal dari suku Sunda dengan suku Madura.
3.      Sumber Data
            Untuk memperoleh data digunakan sumber  data sebagai berikut :
a. Sumber Primer, yaitu data yang didapatkan langsung dari  Responden. Seperti data  yang diperoleh dari santri yang berasal dari suku Sunda.
 b. Sumber Sekunder, yaitu data yang diperoleh selain dari Responden. Misalnya dari buku-buku, dokumen, majalah, jurnal, pustaka lain yang berkaitan dan pengamatan secara intensif.
4.      Teknik Pengumpulan Data
Dalam teknik pengumpulan data peneliti menggunakan beberapa metode sebagai berikut :
a.  Metode Observasi
            Observasi ini penulis lakukan se-objektif mungkin terhadap objek penelitian yaitu santri yang berasal dari suku Sunda dan satri yang berasal dari suku Madura.
b.  Metode Wawancara
Metode sederhana yang penulis lakukan terhadap seorang santri yang berasal suku Sunda, hal ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh santri yang berasal dari suku Madura terhadap santri yang berasal suku Sunda.




Bab II
Kajian Teoritis
A.    Pengertian Komunikasi Antar Budaya
Komunikasi Antar Budaya dapat diartikan melalui beberapa pernyataan sebagai berikut (Liliweri,2004:9):
a.       Komunikasi Antar Budaya adalah pernyataan diri antarpribadi yang paling efektif antara dua orang yang saling berbeda latar belakang suku dan budaya.
b.      Komunikasi Antar Budaya merupakan pertukaran pesan-pesan yang disampaikan secara lisan, tertulis, bahkan secara imajiner antara dua orang yang berbeda latar belakang budaya.
c.       Komunikasi Antar Budaya merupakan pembagian pesan yang berbentuk informasi atau hiburan yang disampaikan secara lisan atau tertulis atau metode lainnya yang dilakukan oleh dua orang yang berbeda latar balakang budayanya.
1.              Pengertian Komunikasi
Secara etimologis, menurut Onong Uchjana Effendi, istilah komunikasi berasal dari bahasa ingris “comunication” yang bersumber dari bahasa latin “communication” yang berarti “pemberitahuan” atau pertukaran pikiran. Maka makna hakiki dari communication ini adalah communis yang berarti “sama” atau “kesamaan arti”.[9]
Sedangkan ditinjau dari terminologis para ahli komunikasi mendefinisikan komunikasi antara lain sebagai berikut:
Wilbur Schramm dalam uraiannya mengatakan bahwa sebenarnya, definisi komunikasi berasal dari bahasa latin “communis”. Bila mana kita melakukan komunikasi itu artinya kita mencoba untuk berbagi informasi, ide, atau sikap. Jadi, esensi komunikasi itu adalah menjadikan si pengirim dapat berhubungan bersama dengan si penerima guna menyampaikan isi pesan.[10]
2.      Pengertian Budaya
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi.[11] Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.[12] Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya, dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.[13] budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. [14]
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.
Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial, norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan, dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.
Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku, dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

3.      Pengertian Suku  Madura
Kependudukan orang Madura tersebar di penjuru daerah, seperti Gili Raja, Sapudi, Raas, dan Kangean. Selain itu, orang Madura tinggal di bagian timur Jawa Timur biasa disebut wilayah Tapal Kuda, dari Pasuruan sampai utara Banyuwangi. Orang Madura yang berada di Situbondo, Bondowoso, sebelah timur Probolinggo, utara Lumajang, dan utara Jember, jumlahnya paling banyak dan jarang yang bisa berbahasa Jawa, juga Surabaya utara, serta sebagian Malang. ada juga yang menetap di Bawean, di negeri jiran Malaysia, Timor Leste, Brunei Darussalam misalnya juga ada, mereka ada yang menjadi penduduk tetap (sudah dapat IC/ surat tinggal selamanya.), Bahkan ada juga di negara negara Timur Tengah.
Mayoritas masyarakat hampir 100 % suku Madura adalah penganut Islam bahkan suku Madura yang tinggal di Madura bisa dikatakan 100 % muslim. suku Madura terkenal sangat taat dalam beragama islam. Suku Madura terkenal karena gaya bicaranya yang blak-blakan. Juga dikenal hemat, disiplin, dan rajin bekerja.
Harga diri, juga paling penting dalam kehidupan orang Madura, mereka memiliki sebuah peribahasa “lebbi bagus pote tollang, atembang pote mata.” Artinya, lebih baik mati (putih tulang) daripada malu (putih mata). Sifat yang seperti ini melahirkan tradisi carok pada masyarakat Madura, tetapi tradisi ini lambat laun melemah seiring dengan terdidiknya kaum muda di pelosok desa, dahulu mereka memakai kekuatan emosional dan tenaga saja, namun kini mereka lebih arif dalam menyikapi berbagai persoalan yang ada.[15]
Adat dan kepribadian orang Madura merupakan titik tolak terbentuknya watak dengan prinsip teguh yang dipengaruhi oleh karakteristik geografis daerahnya. Satu prinsip yang menjadi fenomena orang Madura, ialah dikenal sebagai orang yang mampu mengambil dan menarik manfaat yang dilakukan dari hasil budi orang lain, tanpa mengorbankan kepribadiannya sendiri. Demikian pula orang Madura pada umumnya menghargai dan menjunjung tinggi rasa solidaritas kepada orang lain.
Sebagai suku yang hidup di kepualauan, orang Madura dijaman dulu kurang mendapat kesempatan untuk berinteraksi dengan dunia luar. Mereka sangat berhati-hati, dan akibatnya sesuatu yang datang dari luar merupakan ancaman bagi dirinya. Meskipun pada dasarnya mereka konservatif, yakni berusaha memelihara dan menjamin nilai-nilai yang mengakar dalam dirinya. Tapi dalam segi yang lain, orang Madura menunjukkan naluri yang kuat untuk menjamin dan bertahan kelangsungan hidup, karena mereka didorong untuk menerima dan memanfaatkan nilai-nilai yang terserap dari luar.
Sebagai contoh yang paling gamblang, ketika tentara Bali menerima kekalahan di Sumenep, mereka dihargai sebagai tamu dan sebagai saudara untuk kemudian memperkenalkan cara-cara bertani garam. Maka secepat itu orang-orang setempat menyebarkan keseluruh Madura.
Demikian pula, dengan kedatangan para saudagar Gujarat yang menyiarkan agama Islam di Madura, mampu dan berhasil mengislamkan para pemimpin dan bangsawan Madura sampai menyebar keseluruh pelosok Madura. Dengan bukti-bukti tersebut, maka tidak benar bila watak dan sikap hidup Madura bebal dan sulit diajak kerja sama. Bahkan sebaliknya, justru mereka lebih akrab, terbuka dalam kondisi apapuna.
Namun kemungkinan besar, kalaupun terjadi kontroversial, terletak pada terputusnya komunikasi bahasa yang orang luar menganggap angkuh dan bertahan. Padahal sebenarnya, bila seseorang mengenal lebih jauh dan berkomunikasi lancer dengan orang Madura maka akan sirna bayangan keras dan bringas itu. Kecuali terhadap pendatang yang congkak, menyinggung perasaan dan mau merusak harga diri dan hak kepentingannya, maka tak segan-segan mereka akan berbicara melalui kekerasan. Atau dengan kata lain, meski dengan wajah angker dan bringas belum tentu berarti berprilaku kasar atau keras.
4.      Pengertian Suku Sunda
secara etimologi kata Sunda berasal dari akar kata Sund atau kata Suddha dalam bahasa Sansekerta yang mempunyai pengertian bersinar, terang, berkilau, putih.[16] Dalam bahasa Jawa Kuno (Kawi) dan bahasa Bali pun terdapat kata Sunda, dengan pengertian: bersih, suci, murni, tak tercela/bernoda, air, tumpukan, pangkat, waspada.[17] Orang Sunda meyakini bahwa memiliki etos atau karakter Kasundaan, sebagai jalan menuju keutamaan hidup. Karakter orang Sunda yang dimaksud adalah  cageur  (sehat),  bageur  (baik),  bener (benar),  singer (mawas diri), wanter (berani) dan pinter (cerdas). Karakter ini telah dijalankan oleh masyarakat Sunda sejak zaman Kerajaan Salakanagara, Kerajaan Tarumanagara, Kerajaan Sunda-Galuh, Kerajaan Pajajaran hingga sekarang.
Pandangan hidup Selain agama yang dijadikan pandangan hidup, orang Sunda juga mempunyai pandangan hidup yang diwariskan oleh nenek moyangnya. Pandangan hidup tersebut tidak bertentangan dengan agama yang dianutnya karena secara tersurat dan tersirat dikandung juga dalam ajaran agamanya, khususnya ajaran agama Islam.
Dalam percakapan sehari-hari, suku Sunda banyak menggunakan bahasa Sunda. Namun kini telah banyak masyarakat Sunda terutama yang tinggal di perkotaan tidak lagi menggunakan bahasa Sunda dalam bertutur kata.[18] Seperti yang terjadi di pusat-pusat keramaian kota Bandung, Bogor, dan Tangerang, dimana banyak masyarakat yang tidak lagi menggunakan bahasa Sunda.
Hubungan antara manusia dengan sesama manusia dalam masyarakat Sunda pada dasarnya harus dilandasi oleh sikap “silih asah, silih asuh, dan silih asih”, artinya harus saling mengasah atau mengajari, saling mengasuh atau membimbing dan saling mengasihi sehingga tercipta suasana kehidupan masyarakat yang diwarnai keakraban, kerukunan, kedamaian, ketentraman, dan kekeluargaan.


B.     Proses Komunikasi Antar Budaya
Proses terjadinya komunikasi antar budaya dipondok Pesantren salafiyah Syai’iyah Sukorejo, seperti yang diungkapkan oleh Liliweri bahwa proses komunikasi antar budaya terjadi ketika interaksi antarpribadi yang dilakukan oleh beberapa orang yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda (2003, p. 13). Komunikasi antar budaya Sunda dengan Madura ini terjadi manakalah kedua kebudayaan tersebut terlibat dalam kegiatan komunikasi yang membawa serta latar belakang budaya masing-masing berupa pengalaman, pengetahuan, dan nilai[19].
Banyak masalah komunikasi antarbudaya sering kali timbul hanya karena orang kurang menyadari dan tidak mampu mengusahakan cara efektif dalam berkomunikasi antarbudaya.[20] Menurut William Howel (1982, dalam Liliweri,2004:225), setiap individu mempunyai tingkat kesadaran dan kemampuan yang berbeda-beda dalam berkomunikasi antarbudaya. Tingkat kesadaran dan kemampuan itu terdiri atas empat kemungkinan, yaitu:
1.      Seorang sadar bahwa dia tidak mampu memahami budaya orang lain. Keadaan ini terjadi karena dia tahu diri bahwa dia tidak mampu memahami perbedaan-perbedaan budaya yang dihadapi. Kesadaran ini dapat mendorong orang untuk melakukan eksperimen bagi komunikaksi antarbudaya yang efektif.
2.      Dia sadar bahwa dia mampu memahami budaya orang lain. Keadaan ini merupakan yang ideal artinya kesadaran akan kemampuan itu dapat mendorong untuk memahami, melaksanakan, memelihara dan mengatasi komunikasi antarbudaya.
3.      Dia tidak sadar bahwa dia mampu memahami budaya orang lain. Keadaan ini dihadapi manakala orang tidak sadar bahwa dia sebenarnya mampu berbuat untuk memahami perilaku orang lain, mungkin orang lain menyadari perilaku komunikasi dia.
4.      Dia tidak sadar bahwa dia tidak mampu mengahadapi perbedaan anatarbudaya, keadaan ini terjadi manakala seseorang sama sekali tidak menyadari bahwa sebenarnya dia tidak mampu menghadapi perilaku budaya orang lain.



Bab III
Pembahasan
A.    Contoh Kasus
Pengaruh Komunkasi Antar Santri Bersuku Madura dengan Santri Bersuku Sunda dipondok Pesantren Salafiyah Syaf’iyah Sukorejo
Dika Maulana, santri  Pondok Pesantren Salafiyah Syaf’iyah Sukorejo asal Majalengka, Jawa Barat. Beliau masuk kepesantren yang memiliki santri mayoritas berkebudayaan suku madura ini pada tahun 2015. Ketika di interview, beliau mengakui kesulitan dalam berkomunikasi kepada santri asal madura disebabkan kurang memahami pola berkomunikasi dengan orang Madura. Dengan berkebudayaan Sunda, santri disekitarnya merasa risih akan perbedaan perbedaan watak dan sifatyang dimiliki dika.
Kesulitan dalam berkomunikasi ini ternyata berimplikasi pada keseharian dika dalam menjalani proses kegiatan belajarnya. Bahkan, terkadang terjadi kesalahpahaman saat berkomunikasi. Seperti, pewatakan orang madura yang keras terkadang menyinggung perasaan dika serta perbedaan cara berkomunikasi seperti pemakaian kosa kata, intonasi dan mimik wajah.
Namun berangkat dari kesulitan berkomunikasi, Dika mempelajari kebudayaan suku Madura. Seiring berjalannya waktu, hingga saat ini, meskipun hanya memahami beberapa kosakata dan kepribadian orang Madura, Dika memahami pola komunikasi ysng digunakan saat berinteraksi dengan santri assal Madura.
Lingkungan yang berbau suku Madura, ternyata mempengaruhi kepribadiannya sebagai orang Sunda, ini kerap kali menimbulkan perasaan khawatir akan terbawa kedalam perwatakan suku Madura.
Namun perlu diakui, setidaknya dia merasa bersyukur terhadap keberadaan berbagai macam kebudayaan dipondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. Disamping mengetahui perwatakan kebudayaan selain suku Sunda, menambah sikap toleransi, juga menambah ke-pekaan saat berinteraksi dengan sesorang yang berlainan kebudayaan.
B.     Pengaruh Komunikasi Antar santri bersuku Madura dengan santri bersuku Sunda dipondok Pesantren Salafiyah Syaf’iyah Sukorejo.
Definisi yang pertama dikemukakan didalam buku “Intercultural Communication: A Reader” dimana dinyatakan bahwa komunikasi antar budaya (intercultural communication) terjadi apabila sebuah pesan (message) yang harus dimengerti dihasilkan oleh anggota dari budaya tertentu untuk konsumsi anggota dari budaya yang lain (Samovar & Porter, 1994, p. 19).
Komunikasi antar budaya adalah proses dimana dialihkan ide atau gagasan suatu budaya yang satu kepada budaya yang lainnya dan sebaliknya, dan hal ini bisa antar dua kebudayaan yang terkait ataupun lebih, tujuannya untuk saling mempengaruhi satu sama lainnya, baik itu untuk kebaikan sebuah kebudayaan maupun untuk menghancurkan suatu kebudayaan, atau bisa jadi sebagai tahap awal dari proses akulturasi (penggabungan dua kebudayaan atau lebih yang menghasilkan kebudayaan yang baru). Menurut Fiber Luce (1991) hakikat studi lintas budaya adalah studi komparatif yang bertujuan membandingkan :
a.  variabel budaya tertentu
b.  konsekuensi atau akibat dari pengaruh kebudayaan, dari dua konteks kebudayaan atau lebih.
Harapannya dengan studi ini, setiap orang akan memahami kebudayaannya sendiri dan mengakui bahwa ada isu kebudyaan yang dominan yang dimiliki orang lain dalam relasi antarbudaya. Artinya komunikasi antar budaya dapat dilakukan kalau kita mengetahui kebudayaan kita dan kebudayaan orang lain.
Praktek komunikasi antar budaya yang dilakukan oleh Antar santri bersuku Madura dengan santri bersuku Sunda dipondok Pesantren Salafiyah Syaf’iyah Sukorejo (komunikasi multikultural) yang menghasilkan efek-efek yang berbeda (Carley H.Dood, 1982) akan mempengaruhi secara langsung baik pengaruh yang bersifat kognitif maupun yang bersifat afektif yaitu (Litvin dalam Purwasito, 2003:47):
1.      Memberi kepekaan terhadap diri seseorang tentang budaya asing sehingga dapat merangsang pemahaman yang lebih baik tentang budaya sendiri dan mengerti bias-biasnya,
2.      Memperoleh kemampuan untuk benar-benar terlibat dalam tindak komunikasi dengan orang lain yang berbeda-beda latar belakang budayanya sehingga tercipta interaksi yang harmonis dan langgeng,
3.      Memperluas cakrawala budaya asing atau budaya orang lain, sehingga lebih menumbuhkan empati dan pengalaman seseorang, yang mampu menumbuhkan dan memelihara wacana dan makna kebersamaan
4.      Membantu penyadaran diri bahwa sistem nilai dan budaya yang berbeda dapat dipelajari secara sistematis, dapat dibandingkan an dipahami.
Namun dibalik adanya sisi positif, tentu ada sisi kontradiktif terhadap sisi tersebut. Berikut Dampak negatif komunikasi antarbudaya dalam masyarakat :
a.  Mengakibatkan terjadinya pencarian kesamaan dalam usaha untuk mencari orang yang memiliki kesamaan budaya, etnis dan lainnya lalu berkumpul dalam satu kelompok.
b.  Penarikan diri: penarikan diri dari interaksi tatap muka, atau dari suatu komunitas.
c.  Kecemasan: perasaan psikologis yang secara tiba-tiba menghasilkan sebuah situasi baru yang kurang aman/nyaman.
d. Bertambahnya ketidakpastian: tidak ada usaha untuk mengurangi ketidakpastian atau dengan berusaha memprediksi perilaku apa yang akan dilakukan lawan bicara saat berinteraksi.
e.  Stereotip: Penggeneralisasian orang-orang (kelompok etnis lain) berdasarkan sedikit info dan membentuk asumsi mengenai mereka berdasarkan keanggotaan mereka dalam satu kelompok.
f.   Prasangka: keyakinan yang didasarkan pada gagasan yang terlebih dahulu disederhanakan, digeneralisasi atau dilebih-lebihkan pada sekelompok orang.
g.  Etnosentrisme: menganggap kelompok budaya/etnisnya yang lebih baik (superior) hingga bisa menimbulkan rasisme yaitu pengkategorisasian individu berdasarkan warna kulit, rambut, dan lainnya.
h.   Culture Shockkecemasan yang dihasilkan dari perasaan kehilangan tanda keluarga dan simbol dari pergaulan sosial, gegar budaya terjadi ketika kita memasuki lingkungan baru yang berbeda budaya.


Bab IV
Penutup
A.          Kesimpulan
Komunikasi antar budaya sangat diperlukan di negara ini. Mengingat bangsa indonesia mempunyai bermacam-macam budaya, akan sangat membantu dalam dalam kegiatan berkomunikasi.
Komunikasi antar budaya juga sangat diperlukan dipondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. Dengan memiliki kurang lebig 15.000 santri. Mengingat perbedaan watak dari setiap budaya yang melekat pada diri santri tentu hal ini mempermudah bagi santri untuk tetap berkomunikasi dengan sesama dalam memenui kebutuhannya.
Seperti yang telah dicontohkan diatas, bahwa perbedaan yang signifikan antara santri asal sunda dengan asal madura dipondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo menghasilkan efek yang bermacam-macam. Faktor penyebabnya adalah dari kegiatan komunikasi itu sendiri yang menyangkut pola-pola komunikasi. Kesalahan dalam memahami pola komunikasi atau pesan yang tersirat yang disampaikan oleh seorang santri yang berbeda budaya bisa berimplikasi pada kesalah pahaman yang berujung pada hal-hal yang tidak dinginkan.
Untuk mencapai keberhasilan dalam berkomunikasi, sesorang santri harus mempelajari dan mencoba saling memahami perbedaan yang ada serta menambah rasa toleran dan solidaritas terhadap sesama santri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.
Komunikasi antar budaya dipondok pesantren salafiyah syafi’iyah sukorejo juga menimbulkan efek baik positif maupun negatif. Diantara efek psitif yang dihasilkan dari komunikasi antar budaya adalah wawasan seorang santri diperkaya terhadap kebudayaan yang belum diketahuinya. Efek negatif dari komunikasi antar budaya adalah perubahan jati diri seseorang secara perlahan.
B.           Saran
Seorang santri agar lebih memahami pola-pola dalam berkomunikasi antar budaya, agar terciptanya suasana yang tentram, damai serta penuh rasa toleransi sesama santri dipondok pesantren salafiyah syafi’iyah sukorejo.


Daftar pustaka
Anandakusuma, (1986: 185-186); Mardiwarsito, (1990: 569-570); Winter, (1928: 219)
Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat. Komunikasi Antarbudaya:Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda Budaya. 2006. Bandung:Remaja Rosdakarya.hal.25
Hasbullah, Moeflich. Tergerusnya Kebudayaan Sunda. Kompas Cetak.
http://Suku%20Sunda%20-%20Wikipedia%20bahasa%20Indonesia,%20ensiklopedia%20bebas.html
https://id.scribd.com/doc/161886014/EFEK-KOMUNIKASI-ANTAR-BUDAYA
https://mfth12.wordpress.com/2016/11/30/pengaruh-komunikasi-antarbudaya-dalam-komunikasi-antarpribadi-makalah-mahasiswa
Human Communication: Konteks-konteks Komunikasi
Human Communication: Konteks-konteks Komunikasi
Human Communication: Konteks-konteks Komunikasi
Liliweri, 2004:254
Onong Uchjana Effendi, Dinamika Komunikasi, (Bandung, Remaja Rosda Karya, 1992) hal.6
Onong Uchjana Effendi, Spektrum Komunikasi, (Bandung: Bandar Maju, 1992) hlm.14
Rouffaer (1905: 16) Williams, 1872: 1128, Eringa, 1949: 289).
Samovar dan Porter, 1972
WJS. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1976), h.235
Asnawir dan Basyirudin Ustman, media pembelajaran , Jakarta: ciputat press, 2002 hal. 45
Onong Uchana Effendy, Dinamika Komunikasi (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004 hlm. 6.
Deddy Mulyana & Jalaludin Rahmat, Komunikasi Antar Budaya, Hal 20
Alex. H. Rumondor dkk, komunkasi antar budaya, (Jakarta: pusat penerbitan universitas terbuka, 2001). Hlm. 117
https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Sunda







[2] http://santri.net/informasi/pesantren-indonesia/pondok-pesantren-salafiyah-syafiiyah-asembagus-situbondo-jatim/
[3] Asnawir dan Basyirudin Ustman, media pembelajaran , Jakarta: ciputat press, 2002 hal. 45
[4] Onong Uchana Effendy, Dinamika Komunikasi (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004 hlm. 6.
[5] Deddy Mulyana & Jalaludin Rahmat, Komunikasi Antar Budaya, Hal 20
[6] Alex. H. Rumondor dkk, komunkasi antar budaya, (Jakarta: pusat penerbitan universitas terbuka, 2001). Hlm. 117
[7] https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Sunda
[8] WJS. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1976), h.235
[9] Onong Uchjana Effendi, Spektrum Komunikasi, (Bandung: Bandar Maju, 1992) hlm.14
[10] Onong Uchjana Effendi, Dinamika Komunikasi, (Bandung, Remaja Rosda Karya, 1992) hal.6
[11]  Human Communication: Konteks-konteks Komunikasi
[12] Human Communication: Konteks-konteks Komunikasi
[13] Human Communication: Konteks-konteks Komunikasi
[14] Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat. Komunikasi Antarbudaya:Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda Budaya. 2006. Bandung:Remaja Rosdakarya.hal.25
[16] Rouffaer (1905: 16) Williams, 1872: 1128, Eringa, 1949: 289).
[17] Anandakusuma, (1986: 185-186); Mardiwarsito, (1990: 569-570); Winter, (1928: 219)
[18] Hasbullah, Moeflich. Tergerusnya Kebudayaan Sunda. Kompas Cetak.
[19] Samovar dan Porter, 1972
[20] Liliweri, 2004:254